30 Des 2011

Pendidikan untuk orang tua

Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua yang baik. Tidak ada pendidikan untuk menjadi orang tua di sekolah formal.

Tapi begitu kita memasuki gerbang pernikahan dan beberapa pasangan ada yg tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan momongan, keahlian untuk menjadi orang tua tiba-tiba muncul :)

Orang tua utamanya ibu adalah manajer yang hebat. Coba lihat kalender atau reminder di hp. Mungkin ada dua janji di 2 tempat yang berbeda dan hanya terpaut waktu 20 menit saja, kapan saatnya kakak mendaftar kursus, mengembalikan formulir, jadwal imunisasi adik, sampai reminder untuk mengambil jahitan kebaya untuk pernikahan sepupu.

Menjadi orang tua juga menjadi ahli keuangan atau bahkan seorang financial planner. Tahun ajaran baru dipastikan akan ada banyak kebutuhan: uang sekolah, uang seragam, dan sepatu olahraga. Trus daftar belanja bulanan yang makin lama makin membengkak, tagihan bulanan, belum lagi kalau harus ada field trip di sekolah X_X. Kemampuan membuat anggaran dan prioritas saat ada dua hal yang harus dibayar bersamaan, mutlak diperlukan.

Siapa bilang menjadi orang tua tidak perlu matematika, kimia, dan biologi? :p Bagaimana caranya membagi rata 7 potong kue ke 5 orang anak yang sedang bermain di rumah? Bagaimana mengetahui kalau bintik-bintik di kulit itu penyakit berbahaya atau hanya gatal saja? Sabun mana yang cocok buat bayi kita? Menjawab kenapa langit berwarna biru?

Yang tidak kalah penting adalah kreatifitas! Kesenian, kerajinan, mendongeng, dan bermusik. Kadang kakak butuh bantuan untuk membuat prakarya. Bagaimana cara mengubah baju tidur, selembar selimut, dan kertas karton menjadi kostum super hero. Kita juga harus kuat menyanyikan nina bobo semalaman atau mendongeng sambil antri di depan teller bank, xixixi...

Rasanya menjadi orang tua tidak hanya butuh kesabaran, ketabahan, dan stamina. We need more than that ;)

13 Okt 2011

Huruf 'P' pada nama Pijar

Tidak perlu lah dijelaskan arti nama anak saya, Pijar. Setiap orang pasti sudah paham maksudnya, hehehe... Bahkan ayahnya cuma memberikan nama cukup 1 kata itu saja, Pijar.

Saya dan keluarga adalah arek Suroboyo asli. Atau kalau orang Jakarta bilang, termasuk orang Jawa. Sekarang ini sedang mengadu nasib dengan menetap di Jakarta.

Karena lahir sampai dewasa tinggal di Surabaya, maka kepindahan kali ini ke Jakarta butuh banyak penyesuaian, terutama karena kami butuh bersosialisasi :D

Balik lagi ke nama anak saya, Pijar. Ketika mengenalkan pertama kali ke lingkungan rumah dan sekolahnya, tidak ada yang aneh atau janggal. Mereka dengan fasih menyebut nama Pijar.

Keanehan baru terlihat ketika gurunya Pijar menulis namanya dengan Fijar. Nah lho, kalau manggil bisa Pijar, tapi kalau di atas kertas kok jadi Fijar? qeqeqeq... Ternyata, setelah di perhatikan orang Betawi dan orang Sunda kalau menyebutkan kata yang mengandung huruf 'F' selalu berganti menjadi 'P'. Misalnya, faktor menjadi paktor :) Makanya nama Pijar disangka berawalan F, hehehe...

Kejadian paling lucu adalah ketika pertama kali membawa Pijar ke dokter. Karena masih baru, maka perlu didata lebih dulu.

Petugas : Namanya siapa?
Saya     : Pijar...
Petugas : (menulis) Fijar...
Saya     : Pijar, pak... pake P. Pijar.
Petugas : Owh..., (sambil menulis) Vijar...
Saya     : X_X

28 Sep 2011

Sumber energi positif

Dulu ketika saya mendengarkan radio, saya selalu berangan-angan ingin menjadi seorang penyiar. Alhamdulillah, sebelum lulus kuliah sudah kesampaian jadi penyiar. Dalam benak saya, bekerja di industri media pasti menyenangkan. Tidak ada konflik, yang ada hanya senang.

Tapi ternyata, dugaan saya salah. Di mana-mana kita bekerja akan selalu menemui konflik. Kalau kita mau bertahan, berdamailah dengan konflik. Kalau tidak bisa berdamai, pasti bawaannya stres dan malas ke kantor. Mau stres terus-terusan? Mending resign aja daripada tiap hari makan hati.

Memutuskan untuk resign juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masih pingin kerja, tapi kerja apa yang tidak ikut orang? hehehe... Secara juga sudah ada anak yang butuh perhatian karena di rumah tidak ada pembantu. Jalan satu-satunya adalah usaha sendiri.

Pertanyaannya sekarang ganti, usaha apa yang modalnya kecil tapi bisa menghasilkan? Coba ini itu, cari sana sini, akhirnya ketemu Oriflame dan d'BC Network. Thank God i found them!

Lucunya, bukan hanya tentang bisnisnya saya belajar, tapi yang paling banyak saya pelajari adalah tentang 'bagaimana memelihara energi positif'. Alhamdulillah, saya belajar untuk memaafkan orang, untuk tidak suka sakit hati dengan orang, untuk selalu berprasangka positif, dan untuk berkumpul dengan orang-orang yang punya energi positif.

Demi memelihara energi positif, di Twitter (meskipun saya nggak aktif :p) saya follow orang-orang yang selalu memberikan tweet-tweet positif. Mulai Ippho, Jamil Azzaini, MotivaTweet, Pepatah, Rangga Umara, sampai Ponijan Liaw. Lumayan nge-charge energi positif saya di tiap pagi hari saat santai atau malam hari sebelum tidur.

Intinya, saya pingin berubah jadi orang yang selalu memiliki energi positif, agar orang-orang di sekitar juga ikut tertular jadi positif. Aamiin :)

18 Sep 2011

Nonton Tendangan Dari Langit

Akhirnya jadi juga nonton film Tendangan Dari Langit. Berdua bareng Pijar yang nge-fans sama Irfan Bachdim, kami berangkat ke Royal Plaza Surabaya.

Menurut saya, film ini salah satu film Indonesia bagus yang pernah saya tonton :) Film yang mengajarkan semangat untuk pantang menyerah.

Hanung Bramantyo sang sutradara, menyajikan film ini sangat apik. Alur yang disajikan beda dengan kebanyakan film Indonesia lain, yang menampilkan konflik kemudian berakhir dengan bahagia -- relatif bisa ditebak.

Di film ini, saya pikir juga begitu.. Setelah melewati satu konflik, sepertinya akan segera ditutup dengan kabar gembira. Tapi ternyata saya salah, hehehe... Kegembiraan yang akan datang (yang kira-kira bisa ditebak penonton) dipatahkan dengan munculnya konflik baru.

Konflik baru yang munculpun terasa natural tidak dibuat-buat untuk memperpanjang cerita. Hasilnya, perasaan ikut diaduk-aduk mulai dari awal film sampai akhir, bahkan. Saat Wahyu (pemeran utama) akan membuat gol, tiba-tiba dijegal tim lawan dan kesakitan di bagian lututnya yang pernah cedera.

Para pemainnya total memerankan tokoh yang ada dalam film. Mulai dari pemeran utama sampai dengan figuran, kecuali guru-guru di SMA tempat Wahyu belajar yang terasa kurang natural, hehehe...

Surprise banget dengan penampilan Agus Kuncoro yang memerankan Hasan, paman Wahyu. Saya sempat underestimate dengannya. Soalnya setiap dengar nama Agus Kuncoro, yang ada di benak saya adalah Azam (Para Pencari Tuhan), qeqeqeq... Tapi di film ini, gak ada Azam sama sekali. Two thumbs up, deh! ;)

Meskipun Tendangan Dari Langit untuk semua umur, anak-anak tetep harus didampingi karena dalam dialognya banyak umpatan-umpatan khas jawa timuran yang perlu dijelaskan oleh orang tua :D

Buat yang nge-fans banget dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, dan penasaran melihat aktingnya, berisap-siaplah untuk kecewa karena munculnya nama mereka berdua totally hanya untuk menarik massa penonton :p

Lepas dari itu, film ini memang layak dijadikan tontonan keluarga Indonesia.

4 Agu 2011

Susahnya mengatur keuangan

Mendengarkan pembicaraan ibu-ibu tentang uang memang seru, hehehe.. Tulisan ini hasil nguping pembicaraan para ibu yang lagi nungguin anaknya di sekolah. Tapi sebelumnya, plis saya jangan dicap suka nguping yaaa...? xixixi...

"Kalau kita pegang uang cash, kok cepet habis ya?" :D Ini salah satu keluhannya. Diberi suami 2 juta di awal bulan, belum juga tengah bulan, uangnya sudah menipis. Lainnya diberi 700rb, 3 hari sudah habis. Diberi 50rb, sehari habis. Diberi 150rb, sehari juga habis. Ow..ow.. :(

Alhasil, sang suami mengeluh, "kalau habis-habis terus..., capek juga aku kerjanya!" hehehe...

Kalau saya pikir-pikir, pegang uang cash atau enggak tergantung bagaimana kita mengaturnya :) Mana yang benar-benar butuh untuk di beli atau enggak. Saya sendiri juga sedang belajar :p Mulai sekarang saya catat kebutuhan tiap bulan. Saya benar-benar menyiasati bagaimana agar uang yang diberi suami, cukup atau bahkan berlebih setiap bulannya :D

Pssst..., kenapa saya begitu tertarik nguping pembicaraan topik ini, karena beberapa yang lalu suami juga mengkritik cara saya mengatur keuangan, xixixi...

29 Jul 2011

Belanja untuk lebaran

Ramadhan kurang beberapa hari lagi. Tapi persiapan lebaran sudah dimulai. Hehehe..., puasa aja belum, sudah mikirin lebaran ya?

Kalau lebaran identik dengan silaturahmi, kue, dan baju baru :) Dari ketiga item itu, yang paling banyak dipersiapkan jauh-jauh hari adalah baju baru dan kue lebaran. Tidak heran, karena kalau kita belanjanya dekat-dekat dengan lebaran, harganya bisa melonjak tinggi.

Selain itu, semakin dekat lebaran, pasar dan mall rasanya kok makin penuh ya? Jadi kurang nyaman untuk belanja :D Meskipun saat Ramadhan nanti, banyak toko yang menawarkan diskon besar-besaran, jujur saya masih lebih suka belanja persiapan lebaran sebelum Ramadhan tiba.

Alasannya sederhana saja. Saat puasa, lebih baik menghemat tenaga di rumah dan fokus untuk beribadah o:) Setuju?

Jadi, sudah punya baju lebaran berapa? :p

20 Jul 2011

Sebelum Ramadhan tiba

Saya nggak tau tulisan ini sumbernya dari mana. Saya mendapatkannya dari BlackBerry Messenger yang dikirimkan teman.

Tulisan ini bisa jadi introspeksi menjelang Ramadhan tiba. Please enjoy.. :)

Lucu ya...
Uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal mesjid tapi begitu kecil bila kita bawa ke mall…

Empat puluh lima menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk PACARAN…

Betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop…

Susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman atau pacar...

Betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya…

Susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel best-seller 100 halaman pun habis dilalap…

Orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, tapi berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar…

Susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip…

Kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al Quran…

Begitu banyak orang segan/takut dipanggil sama boss, pejabat, dan orang "besar" lainnya, tapi begitu banyak orang yang cuek jika ada panggilan (adzan)/ dipanggil Allah..

Kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, bbm, tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali…

Allah berkata : Jika engkau lebih mengejar duniawi daripada mengejar dekat dengan Ku maka Aku berikan, tapi Aku akan menjauhi kalian dari surga Ku ...

6 Jun 2011

Allah ada dimana?

Sering mengantarkan Pijar ke sekolah, akhirnya jadi hafal dengan lirik-lirik lagu yang diajarkan, hehehe... Dari berbagai macam lagu yang diajarkan ada satu lagu yang kalau saya mendengarkannya jadi merasa diingatkan :)

Kadang bahkan kalau sedang serius mendengarkan lirik lagu ini, jadi terharu, pingin nangis, dan sangat rindu Allah.. Maunya buru-buru sholat dan berdoa, curhat, sharing sama Allah.

Ini dia lagunya:
Bila aku bertanya, Allah ada dimana?
Dia pun menjawab, Aku dekat saja...
Allah senantiasa dekat dengan hambaNya
Mengabulkan doa, siapa yang meminta...
Mengabulkan doa, siapa yang meminta...

18 Jan 2011

Berat badan Pijar

Minggu lalu Pijar ke Posyandu. Seperti biasa, setiap bulan dia selalu rutin untuk menimbang berat badannya.

Alhamdulillah, setiap bulan sejak usia 2 tahun, berat badan Pijar selalu naik. Atau paling tidak tetap :D Belum pernah turun.

Ada yang lucu, ketika Pijar datang ke Posyandu minggu lalu. Ketika ditimbang, berat badan Pijar adalah 19.1 kg. Ditanya, bulan lalu berapa? Bulan lalu beratnya 18.5 kg. Banyak sekali kenaikannya?

Hehehe..., ini baru ketiga kalinya Pijar ke Posyandu setelah pindah dari Surabaya. Bulan November, berat badannya 18.4 kg. Bulan Desember, beratnya naik ke 18.5 kg, dan bulan Januari langsung melonjak ke 19.1 kg.

Bulan November ke Desember kenaikannya cuma sedikit karena waktu itu Pijar kena batuk pilek.

Gimana enggak naik terus? Wong makannya apa aja bisa masuk :D Tidak hanya makanan utama, makanan selingan juga suka. Belum lagi ditambah susu. Alhamdulillah juga sih, di saat anak-anak seusianya susah makan, Pijar gampang banget makannya :)

Dengan tinggi badan 103 cm dan berat badan 19.1 kg, Pijar tidak terlihat gemuk sekali.

12 Jan 2011

Kucing Anggora milik tetangga

Tiga bulan terakhir ini, setiap kali buka pintu di pagi hari, saya selalu harap-harap cemas. Cemas dapat bonus atau tidak di depan rumah.

Jangan bayangkan bonus ini seperti rejeki nomplok, karena saya sama sekali sangat tidak mengharapkan bonus ini ada :D

Alkisah seekor kucing tetangga keturunan Anggora. Bulunya tebal, gendut, berwarna abu-abu, dipanggil si Buluk. Mukanya mirip Garfield. Menggemaskan? Iya, kalau dia tidak suka pup di teras rumah orang.

Huuuaaahhh..., pupnya bukan di pasir atau tanah, tapi di lantai! Bayangkan kalau pagi-pagi buka pintu, pinginnya menghirup udara segar, yang tercium malah bau pup kucing. Sebel!

Belum lagi kalau harus membersihkannya. Lengket dan bau. Kami harus menaburkan pasir dulu di atas kotoran itu, baru kemudian dibuang.

Awalnya dikirain karena si empunya kucing lagi pergi haji, makanya kucingnya keliaran dan suka pup di mana-mana. Sabar..., mungkin setelah pulang haji, kucingnya ada yang ngurus.

Bersabarlah kami, saya dan tetangga, selama 40 hari selama beliaunya menunaikan ibadah haji. Sepulang dari haji, kami sudah senang dan berharap tidak ada lagi pup di pagi hari.

Ternyata, harapan tinggal harapan. Si Buluk tetap saja pup di rumah tetangga. Akhirnya kami berinisiatif untuk menyampaikan perihal ini ke empunya Buluk. Dan responnya cuma diam saja. Kebangetan!

Akhirnya muncul opsi dari para tetangga untuk dikarungin saja tuh, si Buluk. Tapi kok ya, larinya kenceeeng banget!

Sampai sekarang belum ada solusi yang pas gimana agar si Buluk tidak pup di lantai rumah orang. Bahkan sampai tadi pagi, pup si Buluk sudah bikin saya marah ke suami karena berangkat kerja tanpa membersihkan dulu lantai yang penuh dengan kotoran :p

Photo: bukan gambar si Buluk

2 Jan 2011

Bijak menggunakan facebook

Siapa sih yang enggak punya akun facebook sekarang ini? Hampir semua orang punya. Mulai dari pekerja kantoran, ibu rumah tangga, sampai anak-anak SD pun sudah ada yang punya akun facebook.

Kemarin, saya sempat ngobrol dengan tetangga, ibu rumah tangga dua anak perempuan yang beranjak remaja. Sebut saja ibu A.

Ibu A ini mengatakan keberatannya membuat akun facebook, meskipun sudah disarankan oleh saudara-saudaranya dan bahkan suaminya. Alasannya sederhana, enggak mau kecanduan dan takut ketemu sama mantan-mantannya dulu, hehehe...

Menarik. Jujur, keinginan untuk mencari teman-teman lama waktu sekolah atau kuliah di situs jejaring sosial ini begitu besar. Kadang saya juga kepikiran untuk mencari mantan pacar atau bahkan teman yang dulu saya pernah taksir, xixixi...

Bukannya apa, hanya ingin tahu bagaimana kehidupannya sekarang. Sudah menikah atau belum, sudah punya anak atau belum :D

Balik lagi ke Ibu A, kekhawatirannya tidak akan terjadi jika kita punya rambu-rambu sendiri agar tidak 'terjebak' dengan cinta lama atau bahkan cinta baru yang muncul dari penggunaan facebook :p

Saya sendiri enggak mungkin nggak pake facebook, karena pekerjaan saya sebagian dilakukan dengan menggunakan facebook. Terutama untuk promo bisnis online dan komunikasi dengan downline :)