15 Sep 2021

Speak Up


 

Sependek yang saya ingat, almarhum bapak adalah orang yang vokal.

Beliau adalah guru dan terakhir sebelum pensiun menjabat Kepala Dinas Pendidikan di sebuah kecamatan di Surabaya. Bapak tidak segan-segan untuk menolak kebijakan atasannya jika itu tidak memihak pada guru, anak didik, dan orang tuanya. Pernah juga dapat cerita, bapak walk out dalam sebuah rapat. Sendirian.

Kebiasaan speak up itu juga diajarkan ke anaknya sejak dini. Pernah waktu saya kelas 4 SD diberi uang untuk bayar SPP trus saya "keceplosan" kalau sebulan ini ga ada ekskul menari yang saya ikuti karena gurunya ga masuk.

Bapak langsung bilang, kalau gitu ga usah bayar ekskul, bilang ke gurumu karena ga ada ekskul. Sebagai anak, deg-degan dong disuruh bilang gitu ke guru.... Tapi ga ada opsi menolak bapak, hahaha... 😂

Pas sudah bayar SPP dan menolak bayar uang ekskul, guru saya cuma senyum. Tapiii besoknya saya diinterogasi sama 2 guru lain dan ditanya-tanya kenapa menolak bayar ekskul... Ya saya jawab sesuai dengan yang diajarkan bapak lah. 😁

Ajaibnya, minggu depan akhirnya ada guru pengganti ekskul menari dan tentu saja setelah itu bapak juga menunaikan kewajiban dengan membayar ekskul. 😊

Masih ada banyak juga peristiwa lain yang membuat saya deg-degan karena diminta bertanya tentang hal yang mengganjal selama saya sekolah.

Ternyata sedikit banyak hal-hal seperti ini mempengaruhi saya (in a good way). Saya terbiasa bicara jika ada yang mengganjal di hati. Saya terbiasa mempertanyakan apa saja jika ada yang aneh, hehehe

Dari bapak saya belajar, bahwa berbeda pandangan itu gapapa..
Bahwa berani menyuarakan hal yang kamu anggap benar itu prinsip..
Bahwa kamu harus siap menerima konsekuensi jika banyak yang tidak setuju denganmu.

Jangan takut speak up hanya karena kamu ingin diterima di sebuah lingkaran pertemanan/organisasi/profesi...

Alfatiha 🤲🏻🥰

21 Agu 2021

Kopi Pahit

 
 
Dulu, duluu banget, saat masih aktif bekerja di luar rumah, saya bukan peminum kopi. Minum kopi justru dimulai saat di rumah. Pilihannya pun jatuh pada kopi instan sasetan, hahaha...

Lama-lama ketika tahu fakta bahwa kopi instan saset itu hanya beraroma kopi dan bukan benar-benar terbuat dari kopi, maka saya mulai mencoba kopi hitam.

Perpindahan dari kopi saset ke kopi hitam itu juga dibarengi dengan kesadaran ingin mengurangi gula atau minum-minuman manis. Jadi seingat saya, saya langsung mencoba kopi hitam tanpa gula alias kopi pahit.

Apakah saya ga pernah minum kopi hitam manis sama sekali? Pernah dong, saya ga anti dengan yang manis. Waktu itu saya bikin aturan, weekdays saya minum kopi pahit, kopi manis hanya diminum saat weekend.

Tapi seiring dengan maraknya kopi kekinian dan kafe yang menjamur, saya mengubah aturan tentang kopi manis di weekend. Saya mulai mencoba berbagai kopi-kopi kekinian, lebih tepatnya kopi susu gula aren. Mulai harga yang murah sampai yang lumayan. Dari yang cuma berasa susu sampai yang berasa kopinya, hahaha...

Sampai kapan? Rasanya mulai bulan ini kok ada rasa jenuh dengan kopi-kopi kekinian. Jadi saya nggak mulai ngotot kudu beli kopi kekinian saat weekend, karena ternyata saya lebih bisa menikmati ngopi ketika di rumah, kopi pahit.