Sependek yang saya ingat, almarhum bapak adalah orang yang vokal.
Beliau adalah guru dan terakhir sebelum pensiun menjabat Kepala Dinas Pendidikan di sebuah kecamatan di Surabaya. Bapak tidak segan-segan untuk menolak kebijakan atasannya jika itu tidak memihak pada guru, anak didik, dan orang tuanya. Pernah juga dapat cerita, bapak walk out dalam sebuah rapat. Sendirian.
Kebiasaan speak up itu juga diajarkan ke anaknya sejak dini. Pernah waktu saya kelas 4 SD diberi uang untuk bayar SPP trus saya "keceplosan" kalau sebulan ini ga ada ekskul menari yang saya ikuti karena gurunya ga masuk.
Bapak langsung bilang, kalau gitu ga usah bayar ekskul, bilang ke gurumu karena ga ada ekskul. Sebagai anak, deg-degan dong disuruh bilang gitu ke guru.... Tapi ga ada opsi menolak bapak, hahaha... 😂
Pas sudah bayar SPP dan menolak bayar uang ekskul, guru saya cuma senyum. Tapiii besoknya saya diinterogasi sama 2 guru lain dan ditanya-tanya kenapa menolak bayar ekskul... Ya saya jawab sesuai dengan yang diajarkan bapak lah. 😁
Ajaibnya, minggu depan akhirnya ada guru pengganti ekskul menari dan tentu saja setelah itu bapak juga menunaikan kewajiban dengan membayar ekskul. 😊
Masih ada banyak juga peristiwa lain yang membuat saya deg-degan karena diminta bertanya tentang hal yang mengganjal selama saya sekolah.
Ternyata sedikit banyak hal-hal seperti ini mempengaruhi saya (in a good way). Saya terbiasa bicara jika ada yang mengganjal di hati. Saya terbiasa mempertanyakan apa saja jika ada yang aneh, hehehe
Dari bapak saya belajar, bahwa berbeda pandangan itu gapapa..
Bahwa berani menyuarakan hal yang kamu anggap benar itu prinsip..
Bahwa kamu harus siap menerima konsekuensi jika banyak yang tidak setuju denganmu.
Jangan takut speak up hanya karena kamu ingin diterima di sebuah lingkaran pertemanan/organisasi/profesi...
Alfatiha 🤲🏻🥰

