28 Sep 2011

Sumber energi positif

Dulu ketika saya mendengarkan radio, saya selalu berangan-angan ingin menjadi seorang penyiar. Alhamdulillah, sebelum lulus kuliah sudah kesampaian jadi penyiar. Dalam benak saya, bekerja di industri media pasti menyenangkan. Tidak ada konflik, yang ada hanya senang.

Tapi ternyata, dugaan saya salah. Di mana-mana kita bekerja akan selalu menemui konflik. Kalau kita mau bertahan, berdamailah dengan konflik. Kalau tidak bisa berdamai, pasti bawaannya stres dan malas ke kantor. Mau stres terus-terusan? Mending resign aja daripada tiap hari makan hati.

Memutuskan untuk resign juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masih pingin kerja, tapi kerja apa yang tidak ikut orang? hehehe... Secara juga sudah ada anak yang butuh perhatian karena di rumah tidak ada pembantu. Jalan satu-satunya adalah usaha sendiri.

Pertanyaannya sekarang ganti, usaha apa yang modalnya kecil tapi bisa menghasilkan? Coba ini itu, cari sana sini, akhirnya ketemu Oriflame dan d'BC Network. Thank God i found them!

Lucunya, bukan hanya tentang bisnisnya saya belajar, tapi yang paling banyak saya pelajari adalah tentang 'bagaimana memelihara energi positif'. Alhamdulillah, saya belajar untuk memaafkan orang, untuk tidak suka sakit hati dengan orang, untuk selalu berprasangka positif, dan untuk berkumpul dengan orang-orang yang punya energi positif.

Demi memelihara energi positif, di Twitter (meskipun saya nggak aktif :p) saya follow orang-orang yang selalu memberikan tweet-tweet positif. Mulai Ippho, Jamil Azzaini, MotivaTweet, Pepatah, Rangga Umara, sampai Ponijan Liaw. Lumayan nge-charge energi positif saya di tiap pagi hari saat santai atau malam hari sebelum tidur.

Intinya, saya pingin berubah jadi orang yang selalu memiliki energi positif, agar orang-orang di sekitar juga ikut tertular jadi positif. Aamiin :)

18 Sep 2011

Nonton Tendangan Dari Langit

Akhirnya jadi juga nonton film Tendangan Dari Langit. Berdua bareng Pijar yang nge-fans sama Irfan Bachdim, kami berangkat ke Royal Plaza Surabaya.

Menurut saya, film ini salah satu film Indonesia bagus yang pernah saya tonton :) Film yang mengajarkan semangat untuk pantang menyerah.

Hanung Bramantyo sang sutradara, menyajikan film ini sangat apik. Alur yang disajikan beda dengan kebanyakan film Indonesia lain, yang menampilkan konflik kemudian berakhir dengan bahagia -- relatif bisa ditebak.

Di film ini, saya pikir juga begitu.. Setelah melewati satu konflik, sepertinya akan segera ditutup dengan kabar gembira. Tapi ternyata saya salah, hehehe... Kegembiraan yang akan datang (yang kira-kira bisa ditebak penonton) dipatahkan dengan munculnya konflik baru.

Konflik baru yang munculpun terasa natural tidak dibuat-buat untuk memperpanjang cerita. Hasilnya, perasaan ikut diaduk-aduk mulai dari awal film sampai akhir, bahkan. Saat Wahyu (pemeran utama) akan membuat gol, tiba-tiba dijegal tim lawan dan kesakitan di bagian lututnya yang pernah cedera.

Para pemainnya total memerankan tokoh yang ada dalam film. Mulai dari pemeran utama sampai dengan figuran, kecuali guru-guru di SMA tempat Wahyu belajar yang terasa kurang natural, hehehe...

Surprise banget dengan penampilan Agus Kuncoro yang memerankan Hasan, paman Wahyu. Saya sempat underestimate dengannya. Soalnya setiap dengar nama Agus Kuncoro, yang ada di benak saya adalah Azam (Para Pencari Tuhan), qeqeqeq... Tapi di film ini, gak ada Azam sama sekali. Two thumbs up, deh! ;)

Meskipun Tendangan Dari Langit untuk semua umur, anak-anak tetep harus didampingi karena dalam dialognya banyak umpatan-umpatan khas jawa timuran yang perlu dijelaskan oleh orang tua :D

Buat yang nge-fans banget dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, dan penasaran melihat aktingnya, berisap-siaplah untuk kecewa karena munculnya nama mereka berdua totally hanya untuk menarik massa penonton :p

Lepas dari itu, film ini memang layak dijadikan tontonan keluarga Indonesia.